Allahumma Shalli ^ala Muhammad Wa ali Muhammad
Assalamu'alaika Ya Aba Abdillah, Assalamu'alaika yabna Rasulullah, Assalamu'alaika yabna Amiiril mukminiina wabna sayyidil washiyyin, Assalamu'alaika yabna Fathimata sayyidati nisaail 'alamiin, Assalamu'alaika Ya tsarallahi wabna tsarihi wal witral mawtuuraa, Assalamu'alaika wa 'alal arwa ihillati hallat bi finaa ika, 'Alaikum minni jami'an salamullahi abadaan ma baqiitu wa baqiyallailu wannahaari.
Salam atas mu wahai Aba Abdillah, Salam atas mu wahai putera Rasulullah, Salam atas mu wahai putera Amirul Mukminin, Salam atas mu wahai putra Fathimah penghulu wanita sedunia, Salam atas mu wahai Tsarallah wabna tsarih wal witral mawtur, Salam atas mu dan para arwah yang berada di halamanmu, Salam dariku untuk semua, akan selalu kuucapkan Salamullah atas mu sepanjang hidupku dan sekekal siang dan malam.
Lima puluh tahun setelah jasad Rasulullah SAWW dibaringkan disamping Masjid Nabawi, dunia Islam telah terbentang meliputi hampir setengah bumi. Gembala-gembala onta kini berpesta pora di istana- istana. Mereka telah menaklukkan Romawi dan Persia. Suara azan bergema mulai dari kota Alexandria di Mesir sampai ke dusun-dusun kecil di Azerbaijan. Berkat perjuangan Muhammad Rasulullah SAWW, orang-orang Arab yang miskin kini menjadi penguasa dunia. Bangsa yang semula terasing disahara sekarang menentukan sejarah umat manusia.
Di Madinah, tidak jauh dari para Rasul yang agung, putera pendiri Islam tinggal dalam gubuk yang sederhana. Pada malam-malam yang dingin, ia menghabiskan waktunya dalam ruku' dan sujud. Zikirnya menyobek kesepian malam, melantunkan lagu-lagu suci para Nabi. Lihatlah, ia datang berziarah ke pusara kakeknya. Ia merintih, mengadukan keadaan ummat yang Ia saksikan. Dalam gemerlap istana para penguasa, cahaya Islam telah padam, dalam bentangan daerah kekuasaan mereka, kaum mukminin yang saleh menderita karena penindasan. Istana-istana telah didirikan dengan merampas hak orang-orang yang lemah. Anggur yang diedarkan dalam cawan-cawan merah diperah dari keringat dan darah kaum muslimin.
Assalamu'alaika Ya Aba Abdillah, Assalamu'alaika yabna Rasulullah, Assalamu'alaika yabna Amiiril mukminiina wabna sayyidil washiyyin, Assalamu'alaika yabna Fathimata sayyidati nisaail 'alamiin, Assalamu'alaika Ya tsarallahi wabna tsarihi wal witral mawtuuraa, Assalamu'alaika wa 'alal arwa ihillati hallat bi finaa ika, 'Alaikum minni jami'an salamullahi abadaan ma baqiitu wa baqiyallailu wannahaari.
Salam atas mu wahai Aba Abdillah, Salam atas mu wahai putera Rasulullah, Salam atas mu wahai putera Amirul Mukminin, Salam atas mu wahai putra Fathimah penghulu wanita sedunia, Salam atas mu wahai Tsarallah wabna tsarih wal witral mawtur, Salam atas mu dan para arwah yang berada di halamanmu, Salam dariku untuk semua, akan selalu kuucapkan Salamullah atas mu sepanjang hidupku dan sekekal siang dan malam.
Lima puluh tahun setelah jasad Rasulullah SAWW dibaringkan disamping Masjid Nabawi, dunia Islam telah terbentang meliputi hampir setengah bumi. Gembala-gembala onta kini berpesta pora di istana- istana. Mereka telah menaklukkan Romawi dan Persia. Suara azan bergema mulai dari kota Alexandria di Mesir sampai ke dusun-dusun kecil di Azerbaijan. Berkat perjuangan Muhammad Rasulullah SAWW, orang-orang Arab yang miskin kini menjadi penguasa dunia. Bangsa yang semula terasing disahara sekarang menentukan sejarah umat manusia.
Di Madinah, tidak jauh dari para Rasul yang agung, putera pendiri Islam tinggal dalam gubuk yang sederhana. Pada malam-malam yang dingin, ia menghabiskan waktunya dalam ruku' dan sujud. Zikirnya menyobek kesepian malam, melantunkan lagu-lagu suci para Nabi. Lihatlah, ia datang berziarah ke pusara kakeknya. Ia merintih, mengadukan keadaan ummat yang Ia saksikan. Dalam gemerlap istana para penguasa, cahaya Islam telah padam, dalam bentangan daerah kekuasaan mereka, kaum mukminin yang saleh menderita karena penindasan. Istana-istana telah didirikan dengan merampas hak orang-orang yang lemah. Anggur yang diedarkan dalam cawan-cawan merah diperah dari keringat dan darah kaum muslimin.
Musik-musik dimainkan dengan membungkam suara pejuang kebenaran.
Ia sampaikan kepada Nabi apa yang dilakukan umamatnya. Nabi pernah berpesan agar ummatnya memelihara dua pusaka yang ditinggalkannya: Kitabullah dan Keluarganya, Ahlul Bayt-nya. Sekarang Al-Qur'an hanya tinggal bacaan. Para ulama sewaan memutarbalikkan maknanya. Lalu, dimana keluarga Nabi yang agung, dimana bahtera Nabi Nuh (a.s.), dimana gemintang petunjuk jalan ? Imam Ali (a.s.) dikhianati bekas pengikutnya. Ketika ruku' pedang menebas kepalanya dan darah membasahi jenggotnya. Padahal di zaman Rasul yang agung, ketika ruku' Imam Ali (a.s.) menyerahkan sedekahnya kepada peminta-pemintanya.
Masih terngiang ucapan Rasulullah kepada Imam Ali (a.s.), "Hai Ali, tidak akan mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak akan membencimu kecuali orang munafik." Ketika Imam Ali (a.s.) berperang tanding dengan Amer bin Abdul Wudd di Khandaq, Nabi sujud dan berdo'a: "Ya Allah, Engkau telah mengambil Ubaidah pada perang Badar dan Hamzah pada perang Uhud, jangan Engkau mengambil Ali, jangan tinggalkan aku sendirian." Imam Ali menang, Rasulullah memeluknya, air mata, deras membasahi pipinya.
Kini putera Imam Ali, Al-Husein mendengar para khatib melaknat ayahnya di mimbar-mimbar. Imam Ali (a.s.) yang meruntuhkan benteng Khaibar, yang memenangkan perang Badar, kini dicaci maki. Imam Ali, suami puteri kesayangan Rasulullah dianggap murtad dari agama. Imam Ali yang tidur di ranjang Nabi ketika Nabi berangkat hijrah, yang mengantarkan hijrah keluarga Nabi dengan berjalan kaki ratusan kilo meter sehingga melepuh kedua telapak kakinya, kini dimusuhi kaum muslimin.
Imam Hasan (a.s.) bersedia berdamai asalkan Muawiyah menghentikan kecaman terhadap ayahnya, Ia dikhianati. Muawiyah melanggar janji. Bahkan Imam Hasan, penghulu surga ini diserang diatas kendaraannya dan diracun oleh orang yang terdekat dengannya. Para pecinta Imam Ali dikejar-kejar dan dianiaya. Lihatlah, Hujur bin Adi dan sahabat-sahabatnya dikubur hidup-hidup. Puluhan orang jama'ah Masjid dipotong tangannya karena tidak mau melaknat Imam Ali (a.s.).
Imam Husein (a.s.) menangis, merintih di depan pusara kakeknya. Ia mengadukan semua kezaliman ummat terhadap Ahlul Bayt dan para pengikutnya. Dengarkan Al-Husein berkata kepada kakeknya, "Salam bagimu, ya Rasulullah. Inilah aku, Al-Husein puteri fathimah. Kesayanganmua, cucumu dan pusaka yang kau tinggalkan kepada umatmu. Saksikan, ya Nabi Allah, mereka telah menghinaku, menyia-nyiakan aku, dan tidak menjagaku. Aku mengadu kepada mu, sampai aku bertemu dengan mu". Kemudian Imam Husein shalat beberapa rakaat. Setelah shalat, Ia berdo'a: "Ya Allah, inilah kubur Nabi-Mu, Muhammad SAWW. Aku anak dari puteri Nabi-Mu. Telah terjadi padaku peristiwa yang telah Engkau ketahui. Ya Allah, aku mencintai kebaikan dan membenci kejahatan. Aku bermohon pada-Mu, wahai pemilik keagungan dan kemuliaan, dengan hak kubur inidan penghuninya. Pilihkan bagiku urusan yang Engkau ridhai, yang diridhai Rasul-Mu, yang diridhai kaum mukminin". Ia menangis terus sampai menjelang waktu subuh. Ia meletakkan kepalanya di atas pusara kakeknya sampai tertidur. Tiba-tiba Ia melihat Nabi yang mulia datang, dikawal para Malaikat disebelah kiri dan kanan, dimuka dan di belakang. Nabi merapatkan Al-Husein ke dadanya dan mencium diantara kedua matanya, sambil berkata, "Husein sayangku, seakan telah kulihat tubuhmu bersimbah darah, terbantai di Karbala, ditengah-tengah ummat-ku. Waktu itu engkau kehausan dan tidak diberi minum, engkau dahaga dan tidak dipuaskan. Padahal mereka mengharap syafa'at-ku. Tidak, mereka sama sekali tidak akan mendapat syafa'at-ku pada hari kiamat. Mereka binasa disisi Allah. Kasihku, Husein, ayahmu, ibumu dan saudaramu menitipkan salam padaku, mereka merindukannmu. Bagimulah derajat tinggi di surgayang tak tercapai kecuali dengan kesyahidan mu".
Di makam Rasulullah, Imam Husein berjanji untuk menegakkan kembali Islam yang sebenarnya, Islam yang diajarkan oleh kakeknya. Islam yang menentang kezaliman, Islam yang melawan penindasan, Islam kaum mustadh'afin. Esoknya Ia menghimpun keluarganya, berangkat menuju Kufah. kepergiannya mengguncangkan hati banyak sahabat Nabi.
Ummu Salamah, Ummul Mukminin, isteri Rasulullah SAWW mengantarkannya dengan linangan air mata. Ummu Salamah terkenang saat ia bersama Rasulullah. Dengarkan cerita Ummu Salamh: "Pada suatu malam Rasulullah berbaring untuk tidur, kemudian bangun kembali dalam keadaan resah, berbaring kembali lalu bangun kembali. Di tangannya ada segenggam tanah merah. Ia mencium tanah itu. Aku bertanya, tanah apakah ini ya Rasulullah ?, Rasulullah menjawab, baru saja Jibril memberitakan padaku bahwa Al-Husein akan terbunuh di Karbala. Inilah tanah, tempat darahnya tumpah. Kemudian ia memberitakan padaku seraya berkata: Tanah ini berasal dari tanah tempat Al-Husein akan terbunuh. Kalau tanah ini nanti berubah menjadi darah, ketahuilah Al-Husein sudah terbunuh. Kemudian aku menyimpan tanah itu didalam botol. Aku bertanya, hari itu hari berkabung bila tanah ini telah berubah menjadi darah".
Detik-detik Saat Darah Suci Mewarnai Tanah Karbala
Suasana kota Kufah tercekam kezaliman dan ketidak-adilan, ajaran Islam diselewengkan oleh penguasa zalim Ibnu Ziyad, Gubernur kepercayaan Yazid bin Muawiyah. Penduduk Kufah tidak tahan menghadapi kenyataan itu. Mereka mengirim surat kepada Imam Husein (a.s.), isinya mengharapkan bimbingan ruhani dari cucu kesayangan Rasulullah SAWW. Mereka berjanji akan membai'at kepadanya sebagai khalifah mereka.
Setelah melakukan ibadah haji, Imam Husein beserta rombongannya pergi meninggalkan Makkah menuju Kufah untuk memenuhi harapan penduduk Kufah.
Menjelang senja tanggal 2 Muharram, Imam Husein dan rombongannya tiba di suatu tempat kurang lebih 70 km dari kota Kufah, tempat itu adalah Karbala. Di tempat itu Imam dan rombongannya berhenti. Selesai shalat dan berdo'a, Imam memerintahkan rombongannya memancangkan kemah-kemah untuk istirahat dan melepaskan lelah karena perjalanan yang cukup jauh.
Pengawasan yang begitu ketatnya oleh penguasa zalim, sehingga berita keberangkatan Imam Husein (a.s.) dan rombongan terdengar oleh Gubernur Kufah, Ibnu Ziyad mempersiapkan 4.000 orang yang merupakan pasukan dengan peralatan perang yang lengkap untuk menghadang Imam Husein (a.s.) dan rombongannya yang berjumlah 72 orang.
Matahari ketika itu sudah condong ke Barat, waktu Ashar sudah hampir lewat untuk digantikan oleh maghrib. Di perkemahan Alhusain r.a. suasana diliputi oleh kehausan dan kelesuan karena kekurangan air dan pangan. Suasana panas terik di petang hari itu tambah mencekam. Alhusain r.a. sendiri sedang duduk dengan tenang di depan kemahnya untuk sekedar melepaskan lelah dan mengendorkan ketegangan pikiran. Ia sama sekali tidak memperhatikan dan mengetahui apa yang sedang terjadi di kalangan pasukan Ubaidillah. Ia tidak mengetahui, bahwa seorang kurir dari Kufah telah datang membawa jawaban Ubaidillah bin Ziyad atas usul-usul yang dikemukakannya melalui Umar bin Saad.
Dan lebih-lebih lagi ia tidak mengetahui apa isi surat jawaban penguasa Kufah itu. Karena terlalu lelah dan payah, akhirnya Alhusain r.a. jatuh tertidur.
Sitti Zainab, adik perempuan yang selalu berada tidak begitu jauh dari tempatnya, tiba-tiba datang setengah berlari dan segera membangunkannya.
"Kak Husain! Kak Husain!" kata Sitti Zainab sambil menggoncang-goncangkan tangan kakaknya yang tertidur di depan kemahnya. Alhusain r.a. yang terkejut karena dibangunkan dengan tiba-tiba itu sebelum sempat menanyakan apa-apa yang telah ditukaskan oleh adiknya.
"Apakah kau tidak mendengar suara gemuruh yang makin mendekat itu?"
Suara Sitti Zainab yang mengandung ketakutan itu mendapat jawaban yang tenang dari kakaknya:
"Adikku," kata Alhusain r.a. sambil memandang dengan kasih sayang kepada adik yang sangat disayanginyaitu, "Aku baru saja bermimpi bertemu dengan kakek kita, Rasul Allah s.a.w."
Tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh adiknya, Alhusain r.a. kemudian melanjutkan: "Dalam mimpi tersebut beliau mengatakan kepadaku demikian: 'Wahai Husain, engkau akan datang menyusul aku!'…"
Mendengar mimpi kakaknya itu, Sitti Zainab tidak dapat menahan perasaannya lagi. Sambil memukuli wajahnya sendiri ia berteriak-teriak: "Aduh, alangkah celaka aku ini!"
Tetapi Alhusain r.a. tetap bersikap tenang, bahkan ia berusaha menenteramkan adiknya dengan kata-kata: "Engkau tidak akan celaka, Zainab. Diamlah, adikku. Tenanglah. Semoga Allah s.w.t. memberikan rahmat-Nya kepada engkau!"
Selesai mengucapkan kata-kata penenang bagi Sitti Zainab itu, Alhusain r.a. kemudian berdiri dan berjalan menuju ke tempat adiknya, yaitu Al-Abbas bin Ali. Kepada adik lelakinya itu Alhusain r.a. memerintahkan untuk mengecek apa sebenarnya suara gemuruh itu dan apakah memang benar bahwa suara itu adalah suara derap kuda-kuda musuh yang datang untuk menyerang mereka. Tidak perlu lama Alhusain r.a. menunggu jawaban, sebentar kemudian Al-Abbas bin Ali telah datang dengan tergesa-gesa.
"Musuh benar-benar telah mendekat dan siap untuk melakukan penyerangan guna membinasakan rombongan kita!" Demikian dilaporkan oleh Al-Abbas bin Ali.
Menerima laporan ini Alhusain r.a. segera mengirimkan seorang utusan untuk menemui komandan pasukan penyerbu itu. Ia mengusulkan agar supaya pertempuran ditunda sampai esok hari.
"Berikanlah kesempatan kepada kami pada hari ini untuk melakukan sholat dan ibadah kepada Allah s.w.t. untuk memohon do'a dan istighfar…" Demikian kata Alhusain r.a. kepada komandan pasukan ibnu Ziyad itu.
Menghadapi usul yang tiba-tiba itu, Umar bin Saad kemudian melakukan perundingan sebentar dengan komandan-komandan dan bawahannya dan beberapa orang perwira. Akhirnya pertempuran yang hampir saja pecah pada petang itu mereka mufakati untuk ditunda sampai esok pagi.
Malam hari itu juga setelah melakukan sholat Isya bersama-sama, maka Alhusain r.a. yang tahu betul bahwa pertumpahan darah sudah tidak akan bisa dielakkan lagi, segera mengumpulkan sahabat-sahabatnya yang masih tetap setia. Orang tahu betul bahwa pertempuran yang akan terjadi itu adalah sama sekali tidak seimbang. Tidak seorang pun di antara rombongan Alhusain r.a. yang punya harapan untuk menang.
Delapan puluh orang, termasuk anak-anak dan perempuan, untuk menghadapi empat batalyon pasukan yang terlatih dan lengkap persenjataannya! Hanya suatu keajaiban saja yang mungkin bisa membalikkan keadaan.
Kepada sejumlah kecil sahabatnya itu berkatalah cucu Rasul Allah s.a.w. sebagai berikut:
"Sungguh, belum pernah aku mengenal ada sahabat-sahabat yang melebihi kesetiannya (kepadaku) daripada kalian ini. Demikian pula, aku belum pernah tahu, ada suatu keluarga yang kebaikan hati mereka melebihi daripada keluargaku ini. Semoga Allah s.w.t. memberikan imbalan yang baik bagi kalian atas kebaikan dan kesetiaan kalian terhadap diriku…" Demikian ucap Alhusain r.a. pada malam menjelang pertempuran di tempat yang bernama Karbala itu.
Suasana hening, keprihatinan mencekam. Dengan beratapkan langit yang cerah dan berbintang, kelompok kecil itu dengan sungguh-sungguh memperhatikan Alhusain r.a.
"Ketahuilah saudara-saudaraku," kata Alhusain r.a. melanjutkan, "bahwa aku memberikan ijin kepada kalian untuk berpisah dengan aku. Karena itu, berangkatlah. Biarlah kita berpisah dalam keadaan yang baik. Selamatkan diri kalian. Aku melepaskan kalian dengan baik dan tiada lagi ikatan antara kalian dengan aku…"
Kata-kata tersebut diucapkan dengan penuh rasa haru. Beberapa orang lelaki tidak dapat menahan perasaannya, melelehkan airmata. Sedangkan perempuan-perempuan yang merapatkan telinga di dinding tenda untuk mendengarkan apa yang diucapkan Alhusain r.a., terisak-isak. Malahan ada yang jadi histeris, berteriak-teriak melengking memecah kesepian malam. Tetapi tanpa memperdulikan semuanya itu, berkatalah Alhusain r.a. lebih jauh:
"… kini kita telah diselubungi oleh kegelapan malam. Nah, jadikan kegelapan ini sebagai tabir yang kiranya dapat melindungi kalian dalam perjalanan yang akan kalian lakukan. Aku mengharapkan agar tiap seorang di antara kalian bersedia membawa dan menuntun salah seorang anggota keluargaku. Kemudian pergilah menyebar di bumi Allah ini sehingga Allah s.w.t. memberikan jalan keluar bagi kalian semua…"
Berhenti sejenak ia mereguk rasa haru yang tersendat dalam kerongkongannya untuk kemudian melanjutkan dengan kata-kata:
"Hendaknya saudara-saudara mengetahui, bahwa pasukan musuh yang akan datang menyerang (esok pagi) tidak lain tujuannya kecuali untuk mencari aku. Kalau mereka kemudian sudah berhasil menangkap dan membunuh aku, maka aku yakin mereka tidak akan lagi memperdulikan orang-orang lain…"
Perasaan para pendengar yang sudah lama tertekan mendengarkan kata-kata Alhusain r.a. yang mengharukan itu akhirnya tidak dapat mereka endapkan lagi, dengan serentak, seolah-olah ada suatu perintah ajaib, mereka berseru:
"Ya, Subhanallaaah!" Lalu kemudian menyusul beberapa orang yang berkata dengan berbagai bentuk kalimat, tetapi satu juga maknanya demikian:
"Apa yang akan dikatakan orang kelak mengenai diri kami apabila kami meninggalkan Imam dan pemimpin kami sebelum kami melepaskan sepucuk anak panah dan belum menghunjamkan tombak dan menebaskan pedang-pedang kami terhadap musuh-musuh kita? Apakah kami akan mengatakan bahwa kami telah meninggalkan pemimpin kami, Alhusain, untuk menjadi umpan panah dan sasaran tombak musuh? Dan kemudian jenazah pemimpin kami itu kami biarkan dikoyak-koyak oleh binatang-binatang buas? Apakah kemudian kami akan mengatakan bahwa kami telah lari untuk menyelamatkan diri kami agar kami dapat terus hidup? Apa yang hendak kami katakan kepada kakekmu, Rasul Allah s.a.w., apabila kami bertemu dengan beliau di alam baqa nanti? Dan bagaimana pertanggungan jawab yang harus kami berikan kepada Allah s.w.t….?"
Suasana tenang yang mula-mula bersifat monolog mendengarkan ucapan Alhusain r.a. sekarang berubah menjadi ucapan reaksi bermacam-macam.
"Demi Allah," kata beberapa orang, "kami tidak akan melakukan perbuatan demikian itu. Kami telah bertekad bulat untuk mengurbankan jiwa raga dan harta kami bahkan juga keluarga kami untuk bertempur bersama-sama dengan engkau sehingga kita bersama-sama menemui tempat yang memang disediakan untuk kita. Kami tidak dapat membayangkan, betapa buruknya kehidupan kami sepeninggal engkau!"
Bahkan salah seorang sahabat Alhusain r.a. itu dengan suara paling keras mengatakan: "Demi Allah, kami tidak akan berpisah dengan engkau selama pedangku masih berada di tanganku!"
Tidak dapat lagi Alhusain r.a. yang keras hati itu menahan airmata harunya mendengarkan kata-kata penuh keberanian yang dilandasi oleh ketulusan dan kecintaan pada dirinya itu. Melihat Alhusain r.a. meneteskan airmata, suasana emosionil penuh keberanian itu berubah menjadi tangis bersama. Bukan tangis hati yang kecut, tetapi ungkapan kesatuan perasaan yang tak dapat dibendung.
Tetapi Alhusain r.a. segera menyadari, bahwa malam itu tidak boleh dihabiskan dengan ungkapan emosi. Besok pagi telah menunggu tugas berat dan menentukan. Segera dimintanya segenap anggota rombongan untuk beristirahat dan sebagian orang lagi berjaga-jaga bergantian. Malam makin mendalam, sunyi makin mencekam. Ternyata orang-orang dewasa hampir tak ada yang dapat memejamkan mata. Mereka bukan dihinggapi kengerian, tetapi masing-masing dalam batin maupun ucapan menyampaikan do'a dan berzikir ke hadirat Yang Maha Esa. Mereka mohon agar iman mereka diteguhkan untuk menghadapi cobaan yang sudah menunggu di ambang pagi hari esok.
Di tengah-tengah kesepian yang mencekam di perkemahan Alhusain r.a. dan rombongannya itu, tiba-tiba memecah suara teriakan yang memilukan. Suara yang keluar dari kerongkongan seorang wanita itu seperti suatu keluhan:
"Ah, Husain, pemimpin kami, pemuka yang jadi harapan kami! Oh, alangkah menyedihkan hidupku ini. Alangkah baiknya apabila aku mati daripada harus memikul beban kesedihan ini. Datang kini perasaanku oleh wafat Rasul Allah s.a.w., berpulangnya Sitti Fatimah bundaku, meninggalnya ayahku dan matinya saudaraku Alhasan…"
Orang-orang segera mengetahui bahwa suara memilukan itu adalah keluhan Sitti Zainab, puteri Sitti Fatimah r.a. dan adik kandung Alhusain r.a. sendiri.
.
CERITA ALI ZAINAL ABIDIN
Peristiwa menjelang pertempuran Karbala ini telah diceritakan pula oleh Ali Zainal Abidin r.a., putera Alhusain r.a. yang malam itu masih belum lepas sama sekali dari serangan penyakit. Tentang jeritan pada malam menjelang pertempuran di Karbala yang terlontar dari mulut bibinya, Sitti Zainab menurut Ali Zainal Abidin itu adalah sebagai berikut:
"Pada malam hari pada waktu keesokan harinya ayahku gugur di Karbala, aku sedang duduk termenung dalam keadaan sakit. Ketika itu bibiku berada di sampingku. Dalam kesunyian itu tiba-tiba aku dan bibiku mendengar suara ayahku, Alhusain yang berada di kemahnya, mengumandangkan suatu syair. Dengan suara terputus-putus bersyairlah ayahku demikian:
Oh, zaman.
Alangkah buruk engkau sebagai teman.
Betapa banyak peristiwa sedih telah terjadi.
Pada pagi dan petang hari.
Peristiwa-peristiwa yang menimpa para sahabat
yang menuntut balas terbunuhnya keluarga.
Dan engkau, wahai zaman, tidak puas dengan pengganti
menuntut terus tiada henti.
Sesungguhnya, Segala urusan kembali pada Yang Maha Esa.
Semua makhluk hidup menempuh jalan itu juga.
Mendengar syair ayahku yang diucapkannya berulang kali, terasa tenggorokanku makin kering dan tak dapat lagi aku menahan airmataku. Demikian pula bibiku yang hampir selalu berada di dekatku yang juga turut mendengar alunan sajak ayahku yang lebih menyerupai ratapan itu akhirnya menangis pula. Ia tiba-tiba berteriak, melompat berdiri dan pergi tanpa kerudung menuju ke kemah ayahku. Lalu aku mendengar ia berkata kepada ayahku:
"Oh, Husain, kakakku. Engkau akan meninggalkan aku. Coba kalau ajal mengakhiri hidupku ini!"
"Adikku Zainab," terdengar suara ayahku menjawab dengan suara lemah lembut dan menyejukkan, "jangan biarkan dirimu dipengaruhi oleh syaithan yang memang berusaha menghabiskan kesabaranmu …"
"Kakakku Husain," sahut bibiku dengan suara isakan tangisnya, "semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu."
Rupanya ayahku sangat terharu sehingga tidak dapat menahan tetesan airmatanya mendengar ungkapan kasih sayang adiknya itu. Berkatalah beliau kemudian:
"Adikku, teguhkanlah imanmu kepada Allah s.w.t. Serahkan nasibmu kepada-Nya. Ketahuilah adikku, semua makhluk di permukaan bumi ini pasti (pada suatu waktu) akan mati. Demikian pula segenap penghuni langit tidak akan hidup abadi. Segala sesuatu pasti akan mengalami kemusnahannya, kecuali Allah s.w.t. Bukankah ayahku lebih baik daripadaku? Ibuku lebih baik daripadaku? Demikian pula saudaraku adalah lebih baik daripada aku? Mereka semua itu telah pergi mendahului aku. Hendaklah aku dan semua orang beriman menjadikan Rasul Allah s.a.w. sebagai contoh dan tauladan dari kehidupannya …"
Aku masih ingat, ayahku mengakhiri kata-katanya pada malam itu dengan mengucapkan:
"Adikku, aku minta engkau bersumpah di hadapanku. Dan aku harapkan agar engkau menepati sumpahmu itu. Yaitu, apabila aku gugur, maka janganlah engkau mengoyak-koyak bajumu dan memukuli wajahmu. Jangan pula kau mendoakan kehancuran dan kecelakaan karena hilangnya aku …"
Itulah salah satu peristiwa yang diingat dan dikisahkan oleh Ali Zainal Abidin r.a. mengenai malam menjelang terjadi malapetaka Karbala. Ia masih muda. Tetapi orang mengenalnya sebagai anak yang cerdas. Peristiwa itu sangat berkesan pada dirinya. Sebab pada malam itulah rupanya ia mendengar suara ayahnya yang terakhir pada malam hari. Anak yang masih muda itu telah ikut merasakan suatu keadaan yang sedang mengancam rombongan yang dipimpin oleh ayahnya.
Malam itu ternyata cepat berlalu dengan iringan do'a dan zikir para anggota keluarga dan sahabat-sahabat Alhusain r.a. Sedang di suatu tempat yang tidak seberapa jauh letaknya, seperti harimau lapar, menanti suatu pasukan yang bersenjata lengkap untuk menyergap rombongan yang kecil ini. Anggota pasukan itu menyalakan api untuk sekedar mengurangi kedinginan malam di Karbala.
Sementara sakit Ali Zainal Abidin r.a. bertambah berat. Sitti Zainab yang selalu mendampinginya tidak dapat menahan kepedihan hati dan kebingungannya. Sebentar-sebentar dirabanya dahi anak itu. Panas tidak makin mereda. Bibir yang mungil dan biasa kemerah-merahan, sekarang nampak kering dan pecah-pecah.
"Minum…," terdengar suara lirih dari tenggorokan yang telah kering itu. Makin tersayat hati Sitti Zainab mendengar permintaan kemenakannya itu. Sebab air sudah tidak ada lagi. Girab dan pundi air telah kering kerontang. Sedangkan hanya beberapa puluh meter saja terdapat air yang melimpah-limpah dari sungai Euphrat. Tetapi air itu dijaga keras oleh suatu pasukan yang lebih takut kepada ancaman Ubaidillah bin Ziyad daripada ketakutan mereka kepada Allah s.w.t. Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Sitti Zainab adalah memberikan harapan dan meneguhkan iman anak yang dicintainya itu. Ia hanya dapat memohonkan do'a kepada Allah s.w.t. dan berpesan: "Sabarlah anakku. Tahankan sebentar kehausanmu!"
Belum cukup menghadapi Ali Zainal Abidin yang tengah disiksa kesakitan dan kehausan, maka di sampingnya tergeletak anak bayi yang masih belum lepas susu. Bayi itu adalah Ali Al-Asghar, adik Ali Zainal Abidin. Pilu mendengar tangis anak kecil yang kehausan. Untuk sekedar memenuhi permintaan anak yang belum tahu apa-apa itu Sitti Zainab memasukkan dalam mulut Ali Al-Asghar itu secarik kain. Anak tersebut kemudian menghisap-hisap ujung kain sehingga terlena untuk kemudian tertidur sebentar. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena kehausan kembali mencekam dan terdengar tangisnya yang memilukan.
10 MUHARRAM TIBA
Kalau ada suatu keajaiban bisa terjadi, maka anggota rombongan Alhusain r.a. pada tanggal 9 Muharram tersebut mengharapkan agar matahari tidak terbit esok hari.Tetapi apakah artinya? Matahari tidak terbit lagi tetapi tetap diancam oleh maut karena kelaparan dan kehausan? Tidak ada pilihan lain. Menyongsong fajar tanggal 10 Muharram yang membawa pertempuran dengan pasukan Kufah maupun menyongsong kehausan yang makin mencekam adalah sama beratnya.
Akhirnya fajar tanggal 10 Muharram menyingsing juga. Dua kelompok manusia saling berhadapan. Satu kelompok besar bersenjata lengkap, berhadapan sekelompok kecil rombongan cucu Rasul Allah s.a.w. Satu kelompok mewakili kekuasaan duniawi yang sewenang-wenang, sedangkan kelompok lain mewakili keimanan dan keturunan yang mulia. Umar bin Saad memimpin pasukan yang berjumlah tak kurang dari 4.000 orang, berhadapan dengan pengikut-pengikut setia Alhusain r.a. yang hanya terdiri dari 72 orang, yaitu 32 prajurit penunggang kuda dan 40 orang prajurit pejalan kaki. Selebihnya hanya terdiri dari anak-anak dan perempuan-perempuan.
Tetapi Alhusain r.a. sama sekali tidak merasa kecil hati dengan anggota pasukannya yang hanya berjumlah 72 orang itu. Dengan anggun ia melihat pasukannya yang sudah siap untuk mengorbankan segala-galanya. Kemudian ia memandang ke depan pada pasukan musuh yang berjumlah ribuan. Dalam hati kecilnya Alhusain r.a. sudah tahu, bahwa betapapun keberanian anggota-anggota pasukannya, mereka tidak akan bisa menang menghadapi musuh yang jauh lebih kuat itu. Tetapi ia sudah bertekad untuk lebih baik mati bercermin bangkai daripada hidup berkalang tanah. Kemudian ia mengucapkan do'a dengan suara tenang:
"Ya Allah. Engkaulah tempatku berlindung dalam kesusahan. Engkau tempat aku meletakkan harapan dalam penderitaan. Betapa banyak sudah kesukaran yang melemahkan jiwa yang telah Kau timpakan atas diri kami yang kemudian Engkau angkat. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah pemberi nikmat dan Engkaulah, wahai Tuhanku, pemilik semua kebaikan."
Semua anggota pasukannya dengan penuh khidmat mendengarkan pemimpinnya itu mengucapkan do'a. Sedikitpun tidak nampak wajah kecut dan ketakutan.
Selesai memanjatkan do'a itu kemudian Alhusain r.a. tegak memandang ke hadapannya pada pasukan musuh yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Pasukan yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Kufah yang beberapa waktu sebelumnya telah menyatakan bai'at dan sumpah setianya kepada Alhusain r.a. Dengan suara lantang kemudian cucu Rasul Allah s.a.w. itu berseru kepada mereka:
"Wahai para ahli Irak!
Dengarkanlah kata-kataku ini. Jangan kalian cepat-cepat melakukan serangan terhadap kami sebelum kalian mendengar apa yang akan aku ucapkan ini. Jika kalian insaf dan dapat membenarkan apa yang kukatakan nanti, pasti hidup kalian akan lebih berbahagia …"
Rupanya permintaan Alhusain r.a. itu diperhatikan benar-benar oleh Umar bin Saad. Melihat ini kemudian Alhusain r.a. dengan suara penuh wibawa melanjutkan:
"Tetapi sebaliknya, kalau kalian tidak juga mau insaf dan sadar sehingga kalian tidak bersedia menerima kebenaran yang aku sampaikan, maka kami persilahkan kalian mengerahkan semua tenaga dan kekuatan kalian. Kemudian gempurlah kami; jangan ditunda-tunda lagi!"
Suara Alhusain r.a. penuh wibawa itu rupanya membuat Umar bin Saad dan anggota-anggota pasukannya tertegun. Sebelum mereka sadar tentang apa yang harus mereka lakukan, maka tiba-tiba Alhusain r.a. melanjutkan mengucapkan kata-katanya dengan mengutip ayat 196 surat Al A'raf yang (terjemahannya) berbunyi:
"Sesungguhnya pelindung kami adalah Allah yang telah menurunkan Kitab-Nya, dan Allah juga yang melindungi orang-orang yang soleh."
Suara Alhusain r.a. tersebut menggema di tengah padang pasir pada fajar yang sangat cerah itu. Ternyata bukan saja pasukan Umar bin Saad dan pasukannya sendiri, tetapi juga perempuan-perempuan yang ada dalam kemah-kemah dapat mendengarkan apa yang dikatakan oleh putera Sitti Fatimah Azzahra r.a. itu. Sitti Zainab bersama kawan-kawannya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alhusain r.a. terhadap musuhnya itu tidak lagi dapat menyembunyikan perasaan mereka. Gema suara Alhusain r.a. disambut isakan tangis dan sedu-sedan dari kemah-kemah. Rupanya tangis dan isak itu terdengar juga oleh Alhusain r.a. Ia nampaknya ingat pada apa yang pernah dikatakan oleh pamannya, ibnu Abbas pada dirinya sebelum ia meninggalkan Mekah yang berbunyi sebagai benkut:
"Oh, Husain! Jika engkau harus juga berangkat ke Kufah, janganlah kau membawa wanita dan anak-anakmu yang masih kecil. Sungguh Husain, aku khawatir kalau engkau sampai terbunuh seperti yang pernah dialami oleh Usman ketika ia mati dibunuh di hadapan mata isterinya."
Alhusain r.a. kemudian sadar dari renungannya. Segera ia perintahkan anaknya Ali Al-Akbar dan Al-Abbas untuk menyuruh diam orang-orang perempuan itu dari tangisan mereka. Tidak bisa disangsikan, nampaknya tangis para wanita itu sangat mempengaruhi perasaan Alhusain r.a. Sebab begitu perempuan-perempuan itu menghentikan tangisnya, berkatalah Alhusain lebih lanjut:
"Saudara-saudara, kenalilah aku ini. Perhatikanlah siapa aku ini!" Katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Lalu kembali tanyakan pada diri kalian. Dengarkan suara hati nuranimu. Ketuklah hati kecilmu sendiri dan kemudian pikirlah baik-baik. Pantaskah, layakkah bagi kalian untuk membunuh aku dan menginjak-injak kehormatan diriku? Bukankah aku ini putera Sitti Fatimah Azzahra. Puteri junjungan Rasul Allah s.a.w.? Dan bukankah aku ini putera Ali bin Abitholib, seorang mu'min yang pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Bukankah kalian juga tahu bahwa Hamzah bin Abdul Mutholib, seorang pemimpin dari para syahid adalah paman ayahku? Demikian pula Ja'far bin Abitholib yang telah mati syahid itu adalah pamanku!"
Orang-orang, baik rombongan Alhusain r.a. maupun musuh mereka nampak terpukau oleh kata-kata Alhusain r.a. yang berkata selanjutnya:
"Tidakkah kalian pernah mendengar sabda Rasul Allah s.a.w. mengenai diriku dan diri kakakku Alhasan, ketika beliau mengatakan bahwa "kalian berdua adalah pemimpin para pemuda ahli surga dan cahaya mata orang-orang ahli-sunnah? Tidaklah itu semua cukup menjadi penghalang bagi kalian untuk menghalangi kalian untuk jangan sampai menumpahkan darahku?"
Tetapi melihat mata Umar bin Saad dan anggota pasukannya yang tidak dapat menyetujui ucapan Alhusain r.a. itu maka putera Sitti Fatimah Azzahra r.a. dengan nada agak meninggi setengah berteriak berkata:
"Jika kalian masih juga merasa ragu terhadap apa yang telah kukatakan; jika kalian masih bimbang bahwa aku ini benar-benar anak puteri Rasul Allah s.a.w., boleh aku jelaskan. Demi Allah, tidak ada lagi baik di Timur maupun di Barat seorang putera dari puteri Rasul Allah s.a.w., selain daripada aku!"
Suasana makin tegang, karena nampaknya walaupun Alhusain r.a. sudah mencoba meyakinkan dan membuka hati lawannya, mereka masih tetap berkeras untuk siap menyergap. Tetapi Alhusain r.a. dengan tenang tetap meneruskan pidatonya dengan berkata lagi:
"Apakah kalian menuntut aku sebagai suatu pembalasan karena aku telah membunuh seorang di antara kalian? Ataukah kalian mengejar aku karena aku telah menghabiskan hartamu?"
Dengan pandangan tajam Alhusain r.a. melihat pada wajah-wajah musuh yang tidak seberapa jauh berada di hadapannya itu. Banyak di antara wajah-wajah yang ditatapnya itu yang dikenalnya. Tiap pandangan Alhusain r.a. bertatapan dengan pandangan orang yang dilihatnya, maka musuh itu menundukkan kepala. Mereka tak mampu dan tak berani menatap pandangan putera Sitti Fatimah Azzahra r.a. tersebut. Sebab Alhusain r.a. mengenal mereka. Tidak sedikit di antara yang dikenalnya itu adalah orang-orang yang pernah menyatakan kesetiaan mereka kepadanya. Alhusain r.a. sambil menunjuk kepada beberapa orang mengatakan:
"Hai fulan …, kau anu … Bukankah kalian telah pernah menulis surat kepadaku dengan mengatakan bahwa 'tanaman telah menghijau dan buahnya sudah matang?' Bukankah kalian juga yang pernah menulis bahwa 'sudah waktunya aku datang di Kufah untuk mempersiapkan tentara yang bersedia membela aku?' …"
Sungguh, kata-kata Alhusain r.a. ini menggetarkan. Karena bukan saja yang dikatakannya itu adalah benar, tetapi juga benar-benar menembus jantung orang-orang yang disebutnya itu. Kata-kata Alhusain r.a. itu rasanya sudah merupakan tusukan senjata-senjata pertama yang menembus ulu hati-kecil orang-orang Kufah itu.
Meskipun cukup panjang pidato Alhusain r.a., kedua pasukan yang sebenarnya sudah siap untuk saling menyergap itu seolah-olah terpukau. Padahal tombak telah diacungkan dan pedang telah dihunus. Bagi musuh Alhusain r.a., pidatonya itu seolah-olah merupakan suara seorang hakim yang siap mengadili mereka. Kata-katanya adalah tuduhan-tuduhan yang kuat sekali dasarnya. Tak seorang pun yang bergerak dan menyahut selama cucu Rasul Allah s.a.w. itu menyampaikan kata-katanya dengan bahasa yang terus terang dan penuh kebenaran. Tetapi kalimat-kalimat terakhir yang diucapkan oleh Alhusain r.a. itu ternyata tidak dapat lagi mereka tahan-tahan. Beberapa orang kemudian mengeluarkan teriakan-teriakan untuk mengganggu dan mengacaukan pidato Alhusain r.a. Mereka malu terhadap apa yang diungkapkan oleh Alhusain r.a. itu.
ALHURR BIN YAZID INSAF
Hiruk-pikuk di kalangan anggota pasukan Kufah itu makin menjadi-jadi, sebab banyak di antara mereka yang terkena oleh kata-kata Alhusain r.a. Tetapi ternyata salah seorang di antara anggota pasukan itu, yang tidak lain adalah Alhurr bin Yazid telah menerima kata-kata Alhusain r.a. itu dengan penuh kesadaran. Selama itu memang dia termasuk di antara salah seorang anggota pasukan Umar bin Saad yang mendengarkan dengan tekun pidato Alhusain r.a. Di tengah-tengah hiruk-pikuk suara mereka yang mengacau amanat Alhusain r.a., maka Alhurr tiba-tiba bergerak mendatangi komandan pasukannya, yaitu Umar bin Saad.
"Apakah engkau akan berperang dengan sekelompok orang itu?" Tanya Alhurr bin Yazid kepada Umar bin Saad.
"Ya! Demi Allah, aku akan menggempur dia. Sekurang-kurangnya sampai kepalanya jatuh dan tangannya melayang!" Jawab komandan pasukan, Umar bin Saad itu.
"Apakah engkau tidak setuju dengan salah satu dari tiga saran yang telah dikemukakan oleh Alhusain itu?" tanya Alhurr bin Yazid lagi.
"Demi Allah," jawab Umar bin Saad dengan mata memandang ke bawah dan suara agak dilirihkan, "jika sekiranya kekuasaan ada di tanganku, tentu saja aku akan menerimanya. Tetapi Kepala Daerah, Ibnu Ziyad. tidak mau menerima (saran Alhusain) itu."
Mendengar jawaban dari atasannya itu Alhurr tertegun sebentar dan kemudian dengan pelan-pelan mundur. Setelah beberapa langkah mudur ia membalikkan badan kuda yang ditungganginya dan berjalan menuju ke arah berkumpulnya pasukan Alhusain r.a. badannya terasa gemetar karena menahan perasaan berat. Baik pasukan dari Kufah maupun rombongan Alhusain r.a. melihat peristiwa ini dengan penuh tanda tanya. Suasana sunyi senyap, yang terdengar hanya dengus kuda-kuda pasukan dari Kufah dan langkah-langkah kuda Alhurr bin Yazid yang menuju ke arah Alhusain r.a. Tiba-tiba, seorang anggota pasukan Kufah yang tidak dapat lagi melihat keadaan yang aneh itu setengah berteriak berkata kepada Alhurr:
"Demi Allah, belum pernah selama ini aku melihat engkau bertindak demikian dalam suatu peperangan…"
Semua mata diarahkan kepada orang yang mengatakan kata-kata tersebut. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya:
"Sungguh, kalau aku ditanyai orang, siapakah orang Kufah yang paling gagah berani? Hmmm, maka tanpa ragu-ragu lagi aku akan menjawab: 'Yang paling gagah di antara perajurit Kufah adalah Alhurr bin Yazid' …"
Mendengar kata-kata orang itu maka Alhurr yang memandang dan berjalan menuju ke tempat Alhusain r.a. kemudian berhenti dan berpaling ke arah datangnya suara itu. Di hadapan anggota-anggota pasukan Umar bin Saad kemudian Alhurr bin Yazid berkata dengan suara lantang:
"Demi Allah. Aku telah menyuruh hatiku untuk melakukan pilihan satu di antara dua: surga atau neraka. Dan hasilnya, aku tidak akan mengutamakan sesuatu yang lain di atas surga. Ya, walaupun untuk mendapatkan itu aku harus dicincang dan dibakar hidup-hidup …!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu, sebelum pasukan Umar bin Saad dapat berbuat sesuatu, Alhurr telah membalikkan lagi badan kudanya dan segera memacu tunggangannya itu cepat-cepat menuju ke tempat Alhusain r.a. Tepat di depan Alhusain r.a. kuda itu dihentikannya. Segera ia terus dan dengan emosi ia mengatakan kepada cucu Rasul Allah s.a.w. tersebut:
"Wahai putera Rasul Allah s.a.w. semoga Allah menjadikan diriku ini sebagai penebusmu dalam bahaya."
Alhusain r.a. belum lagi sempat menyahut dan masih terheran-heran, tetapi Alhurr sudah melanjutkan kata-katanya dengan mengucapkan:
"… akulah orangnya yang menyebabkan engkau tidak dapat kembali pulang ke Hejaz untuk menyelamatkan dirimu. Akulah yang terus menekan engkau sehingga engkau tiba di tempat ini dan menghadapi keadaan seperti ini. Demi Allah, ya putera Rasul Allah, aku telah melaksanakan tugas itu dengan suatu keyakinan, bahwa mereka akan menerima salah satu dari tiga saran yang telah kau ajukan itu. Aku mempunyai keyakinan bahwa mereka tidak akan menolak seluruh saranmu itu. Ya Allah, kalau saja aku tahu bahwa mereka pasti tidak akan mau menerima saran-saran yang kau ajukan itu, tentu mulai dari kemarin itu juga aku tidak akan sudi menjalankan perintah untuk menghalang-halangi kau!"
Kata-kata tersebut disampaikan oleh Alhurr dengan emosi dan keras sehingga terdengar oleh kedua kelompok pasukan itu. Dengan suara yang jelas dan tegas kemudian ia melanjutkan:
"Kini, Alhusain, aku datang kepdamu untuk menyatakan taubatku terhadap tindakan yang telah aku lakukan itu sehingga menempatkan engkau dalam keadaan sesulit ini. Sekarang aku menyediakan jiwa dan ragaku untuk memberikan bantuan padamu sehingga aku mati di hadapanmu!"
Pernyataan Alhurr bin Yazid itu disambut dengan suara gemuruh oleh pasukan Alhusain r.a.. Tanpa menghiraukan sambutan orang-orang Alhusain r.a. itu, Alhurr kemudian berbalik menghadap ke arah pasukan Umar bin Saad. Dengan berteriak-teriak ia mengatakan:
"Wahai warga Kufah! Alangkah buruk perbuatan yang kalian lakukan. Kalian telah memanggil Alhusain dengan berbagai macam bujukan dan rayuan. Dan sekarang, ketika ia datang untuk memenuhi panggilanmu itu, maka kalian membiarkannya begitu saja diserahkan pada tangan musuhnya. Bukankah kalian telah menyatakan akan berjuang mati-matian untuk membela Alhusain? Apa kenyataannya sekarang? Kalian datang untuk menyerang dan membunuhnya! Kalian telah mengepung dia! Kalian telah melarang dia untuk menjelajahi bumi Allah yang luas ini. Kalian telah menempatkannya sebagai tawanan yang sama sekali tidak berdaya untuk menolak bahaya yang akan mencelakakannya…"
Suaranya makin parau karena teriakan-teriakan itu, tetapi Alhurr terus melanjutkan kata-katanya:
"Demikian sampai hati kalian untuk menghalang-halangi Alhusain dan keluarganya serta para sahabatnya untuk mengambil air di sungai Euphrat yang mengalir dengan derasnya itu. Padahal orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen dan Majusi dapat mengambil dan minum airnya dengan bebas. Bukan mereka itu saja, bahkan babi hutan dan anjing yang najis pun dapat berendam sesuka hati mereka di sungai itu. Tetapi…, kalian telah mengharamkannya bagi keluarga Rasul Allah dan kalian tega untuk membiarkan mereka sampai mati kehausan. Bukan main buruk perbuatan kalian terhadap keluarga Rasul Allah s.a.w."
"Ya Allah…," keluh Alhurr, "semoga kalian tidak akan dapat minum pada saat kalian merasakan dahaga di tengah padang pasir kelak…" Tapi Alhurr tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Beberapa anak panah telah dilepas oleh pasukan Umar bin Saad dan ditujukan ke arah Alhurr bin Yazid dan rombongan Alhusain r.a.. Pelepasan anak panah ini ternyata menandai dimulainya suatu pertempuran yang sama sekali tidak seimbang antara dua pasukan. Empat ribu anggota pasukan berkuda dan berjalan kaki bersenjata lengkap berhadapan dengan 80 orang yang hanya mengandalkan kepada kebenaran dan kepercayaan kepada Allah s.w.t. Segera pasukan kecil di bawah pimpinan Alhusain r.a. mulai membalas dengan segala kemampuan mereka yang ada. Sedangkan mengenai Alhurr bin Yazid, sejak detik itu ia selalu berada di samping Alhusain r.a. hingga akhirnya gugur dalam menegakkan kebenaran yang diridhoi oleh Allah s.w.t.
Bersambung ke Bagian 2
Jakarta Time






0 komentar:
Poskan Komentar